"Manusia dapat sungguh mencapai tingkat kemanusiaan yang sempurna ketika berproduksi tanpa dipaksa oleh kebutuhan fisiknya sehingga ia harus menjual dirinya sebagai barang dagangan".
("The Socialism and Man in Cuba", 12 Maret 1965)
“Mata itu langsung menghujam hati. Ia seperti Yesus Kristus,” kata Susana Osinaga, perawat di rumah sakit Malta, Vallegrande, mengenang jenazah Che yang telentang dengan mata terbuka. Perempuan yang mengkremasi revolusioner Kuba itu, mungkin tak menyangka laki-laki yang terbujur di hadapannya, menempuh jalan yang “salah” ketika sekitar tahun 60-an ia pergi dari ibu pertiwi yang ia merdekakan bersama rekan sejawatnya, Fidel Castro. Ia menyusuri Amerika selatan untuk membebaskan ibu pertiwi yang lain. Guevara paham betul ibu pertiwi tak mengenal garis demarkasi teritorial. Ia kampung halaman setiap manusia. Di sana, ia berhak merdeka tanpa diperbudak siapapun.













