ASRIK DOT COM

http://www.asrik.com

Webasrik.com

Che Guevara: " the motorcycle diaries"

E-mail Cetak PDF
Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Addthis

"Manusia dapat sungguh mencapai tingkat kemanusiaan yang sempurna ketika berproduksi tanpa dipaksa oleh kebutuhan fisiknya sehingga ia harus menjual dirinya sebagai barang dagangan".

 

("The Socialism and Man in Cuba", 12 Maret 1965)

“Mata itu langsung menghujam hati. Ia seperti Yesus Kristus,” kata Susana Osinaga, perawat di rumah sakit Malta, Vallegrande, mengenang jenazah Che yang telentang dengan mata terbuka. Perempuan yang mengkremasi revolusioner Kuba itu, mungkin tak menyangka laki-laki yang terbujur di hadapannya, menempuh jalan yang “salah” ketika sekitar tahun 60-an ia pergi dari ibu pertiwi yang ia merdekakan bersama rekan sejawatnya, Fidel Castro. Ia menyusuri Amerika selatan untuk membebaskan ibu pertiwi yang lain. Guevara paham betul ibu pertiwi tak mengenal garis demarkasi teritorial. Ia kampung halaman setiap manusia. Di sana, ia berhak merdeka tanpa diperbudak siapapun.

 

Demi meneruskan api revolusi ke Bolivia, negri yang tak punya utang dengannya itu, ia meninggalkan ibu pertiwi, anak-istrinya bahkan jabatan sentral usai kemenangannya dalam aksi revolusi Kuba menumbangan rezim Batista di 1956. Ia mewanti-wanti bahwa seorang pejuang haram hukumnya duduk diam bermanja-manja terlalu lama usai revolusi. Kemenangan di sini harus disusul kemenangan di tempat lain. Api revolusi tak boleh padam hanya karena sebuah victory.

“Aku rasa aku telah memenuhi kewajiban yang mengikatkanku pada revolusi Kuba, kuucapkan selamat berpisah kepadamu. Secara resmi aku mengundurkan diri dari kedudukanku sebagai menteri, pangkat komandanku, dan kewarganegaraan Kuba-ku...” suratnya untuk Fidel bertanggal 1 April 1965. Siapa yang tahu, bahkan Fidel sendiri, surat itu adalah surat perpisahan yang diterimanya saat ia tengah mantap menggiring Kuba ke komunisme merdeka? Di depan rapat terbuka Komite Sentral Partai Komunis Kuba, 3 Oktober 1965—saat itu di Indonesia, tengah genting-gentingnya pembantaian G30S PKI—Fidel membacakan surat orang terhebat kedua dari negri yang diwas-wasi Amerika hingga kini itu: “...Kali ini bangsa-bangsa lain mengharapkan sumbangsihku. Dan aku bisa melakukannya tanpamu, karena tanggung jawabmu yang besar sebagai pemimpin Kuba. Tibalah saatnya bagi kita untuk berpisah,”

Dan surat Che benar. Mereka berdua berpisah. Petualangan pria yang gemar menyigar cerutu jenis Cohiba ini harus berhenti di Bolivia. Pada 8 Oktober 1967, dia dan pasukannya tertangkap di hutan Quebrada del Yuro. Ernesto Che Guevara terperangkap di jurang Valee Serrano, Sungai Grande, dalam sebuah kancah pertempuran dengan peleton yang dikomandani langsung oleh Kapten Gary Prado. Pahanya tertembak. Ia tak kuat berdiri. Akhirnya, dia tertatih sambil dipapah Simon Sarabia, seorang bekas penambang. Di hutan itu, dengan perkiraan yang salah, kisah heroik seorang "Che"—panggilan warga Kuba yang sepadan dengan "Bung" saat revolusi negri kita, Indonesia—pun usai.

Secepatnya, Kapten lalu mengirim sandi ke Vallegrande."Hello Saturno, we have Papa. Papa cansado." demikian bunyi kode itu. Adapun "Saturno" adalah kode untuk Kolonel Joaquin Zenteno, Komandan Divisi 8 Angkatan Darat Bolivia dan "Papa" adalah kode untuk Che. Sedangkan "cansado" yang makna letterlijk-nya "letih" ialah kode bahwa tawanan terluka. Kapten Prado mendapatkan kawat balasan agar Sang Papa segera dibawa ke Desa La Higuera, 7 kilometer dari Quebrada del Yuro. Mereka tiba di sana malam dan Che langsung diikat di sebuah ruang sekolah. New York Times, koran bertiras terbesar di Amerika yang sering disebut Grey Lady karena penampilannya itu, mengutip pernyataan markas besar tentara Bolivia bahwa Che tewas saat baku tembak di hutan itu—padahal ia masih hidup.

Kontroversial itu bermula dari sini. Setidaknya, semenjak sineas Italia, Romano Scavolini, mengangkatnya ke layar lebar dalam film Che: The Last Hours yang mengisahkan detik-detik terakhir seorang tokoh yang ingin meneruskan revolusi ke seluruh Amerika Selatan ini sebelum pistol eksekusi didorkan. Sebuah film yang mencoba menguak fakta yang sebenarnya; semacam pleidooi untuk korban yang tak sempat diliput secara adil proses kematiannya. Fragmen-fragmennya dibangun lewat wawancara orang-orang yang terlibat saat penangkapan, di antaranya Kapten Prado dan Susan Osinaga, bertutur tentang seorang pahlawan dibunuh dalam kondisinya yang separuh tidak sadar, tanpa ada proses peradilan, bahkan pula tanpa penyesalan seorang aktor utama...

Pesan "We have Papa" itu juga diterima Felix Rodriguez, seorang intelegen CIA. Pada 9 Oktober, ia tiba di La Higuera. Di sana ia memotret dan menyita buku harian Che. Lalu ia menerima instruksi dari Vallegrande untuk melakukan operasi Five Hundred and Six Hundred, 'Operasi Pembunuhan Che'. Sebelum ditembak, Che Guevara menitipkan pesan pada Felix untuk istrinya, Aledia March dan Fidel. Tapi Felix menggunakan tangan Sersan Jaime Teran untuk menjalankan tugas ini. Ketika Teran masuk ruang kelas, Che berusaha berdiri. Teran gugup, keluar ruangan, dan baru beberapa saat, ia masuk kembali. Tanpa melihat wajah Che—saya hampir yakin Che tidak takut dan tetap menatap tajam si sersan—Teran menyentakkan pistol. Bunyi dor jadi tutup buku tokoh legendaris itu.

Apa yang menarik dari kisah ini, sebenarnya? Riwayat hidup laki-laki yang menderita gangguan pernafasan akut sejak kecil, yang suka olahraga dan sastra, yang semasa mudanya lebih minat belajar di bidang kedokteran di Universitas Buenos Aires...

Justeru dari kontradiksi-kontradiksi semacam itulah, kisah hidup seorang tokoh yang berliku, digandrungi anak-anak muda bahkan sampai sekarang, satu jawaban saya lontarkan.

Siapa tahu hidupnya tak sehambar garis linier? Penuh pergulatan, barangkali. Saat muda, ia rajin melahap literatur-literatur tentang Karl Marx, Engels dan Sigmun Freud di perpustakaan ayahnya. Di rumahnya, ia miris melihat para pengungsi perang sipil Spanyol, juga krisis politik di "Tanah Lahir"-nya (bukan "Tumpah Darah"). Ia benci birokrasi yang berlebih-lebihan; tak pernah kompromi dengan Amerika, juga kapitalisme. Bahkan ketika rekan kuliahnya, Alberto Granado, membeli sepeda motor, seorang Ernesto Guevara Lynch de La Serna mulai mengelilingi Amerika Latin, menjelajahi Argentina, Chili, Kolombia sampai Venezuela: perjalanan panjang yang membentuk arus pemikirannya saat kapitalisme liberal Amerika dan sosialisme absolut Uni Soviet bertarung di arena negri orang lain. Kita tahu, korban begitu mudah dicacah kala itu. Ia sangat percaya dengan otonomi manusia sebagai entitas dengan kemampuan yang luar biasa, tidar sekedar boneka yang ditundukkan oleh realitas seperti diimani orang komunis.

Memang, Che mendambakan kehidupan dimana—seperti dalam filosof komunisnya—"manusia dapat mencapai puncak kemanusiaannya ketika berproduksi tanpa dipaksa kebutuhan fisiknya": masyarakat yang terus jadi dongeng sepanjang sejarah. Riwayatnya, seperti Gadjah Mada dan Pangeran Diponegoro di Indonesia, memang berhenti di altar eksekusi. Namun impian "hidup sentosa" tak mati, karena mereka yakin dengan soal "mati satu tumbuh seribu". Apalagi sekarang—40 tahun sesudah ia mangkat—kita sering menyaksikan kepala orang diinjak-injak kaki besi kekuasaan, pelaku kejahatan yang bebas melanggang karena palu hukum kehilangan empunya, dan bahkan banyak para revolusioner yang kini tengah asyik menikmati "palapa" di hari tuanya—dan untuk itu, ia kudu menjual idealisme seperti take and give di pasar-pasar Atabah.

Share/Save/Bookmark
Comments (0)Add Comment

Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger

security code
Write the displayed characters


busy
Terakhir Diperbaharui ( Senin, 08 Juni 2009 18:49 )  

Yahoo Messenger

Active Groups

    No active groups.

Latest Members


Visitors Counter

www.asrik.comwww.asrik.comwww.asrik.comwww.asrik.comwww.asrik.comwww.asrik.comwww.asrik.com
www.asrik.comHari Ini470
www.asrik.comKemarin582
www.asrik.comMinggu Ini1052
www.asrik.comBulan Ini4666
www.asrik.comTotal140813
IP Adress Anda : 38.107.191.81

Activity Stream

7 months ago
admin added Walls application Jul 31
admin added Eventlist application Jul 31
admin added My Articles application Jul 31
8 months ago
admin added MyBlog application Jun 14
 

Latest group walls

Latest Discussion

No discussion yet.

Polling

Siapa Capres/Cawapres Yang Akan Terpilih Pada Pilpres Nanti?
 
Featured Links:
Visit Earth DayShare/Save/Bookmark Save Our Earth

Hello Me


Statistics

More Article

Share/Save/Bookmark
Kertas anti air

Ilmuwan di Swedia telah mengungkap sebuah teknik baru untuk membuat kertas anti-air yang yang membersihkan diri sendiri.

Sebuah tim ilmuwan polimer dari Royal Institute of Technology, Stockholm, memodifikasi kertas saring biasa untuk membuatnya menjadi hidrofob. Tetes-tetes air bergulir di atas permukaan kertas, dengan membawa debu dan debris jatuh bersama tetes-tetes air tersebut.

Latest News


16:00
article thumbnai